Rabu-Kamis, 23-24 Januari 2013


Meskipun bukan akhir pekan tapi hari ini cukup mengesankan. Ini adalah pengalaman pertama saya mengunjungi/Ziarah Wali di Jawa Tengah. Saya berziarah kesana bersama rombongan dari teman-teman kakak saya STIT UW Jombang. Berangkat dari jombang pukul 08:00 WIB.
Dengan mengendarai bus, kami berangkat menuju ke beberapa tempat tujuan. Tujuan pertama Sunan Muria. Sebelum sampai disana, kami singgah di pantai terminal kembang putih Tuban. Suasananya lumayan menakjubkan, namun sayang kurang pengelolaan. Sembari beristirahat siang, kami menikmati panorama pantai.
Perjalanan dilanjutkan. Kali ini kami bernasib sial. Bus empat kali mengalami pemberhentian (mogok). Mula-mula hanya terjadi, kebocoran AC, tapi merembet ke mesin penggeraknya. Tidak ada alasan yang jelas dari supir dan kernet bus. Ketika saya tanya, Mereka hanya mengatakan kalau bis masih bisa jalan. Namun di Kecamatan Jenu, tepatnya di kawasan Ponpes. Mambaul Futuh bus benar-benar tidak bisa jalan. Terpaksa, kami harus menunggu beberapa jam untuk kedatangan bus pengganti dari Jombang. Hampir 5 jam kami terdampar di sana.
Menurut banyak celotehan dari panitia dan peserta lomba, mogoknya bus dikarenakan tadi saat melewati Bonang, tidak mampir dulu di makam sunan Bonang. Maka, mbah sunan Bonang “melerai”. Terlepas dari benar tidaknya hal itu, saya menganggapnya positif aja. Mungkin dengan berhentinya kami di jenu, memberikan rizki tersendiri bagi warga jenu.
Selepas maghrib, bus pengganti baru datang. Bus pengganti tidak sebagus bus sebelumnya. Tidak ber-AC, tidak tersedia kamar kecil, dan kalau hujan turun atapnya bocor. Saya yang pas kebagian ketidakenakan yang terakhir, saat hujan turun lebat, air menetes di baju. Wah, malang benar nasib saya. Tapi tidak masalah, saya nikmati saja, perjalanan ini.
Perjalanan menuju Muria, Kudus harus melewati Kabupaten Lamongan, Tuban, Rembang, Pati, baru sampai di Kabupaten Kudus. Sampai di Kudus tengah malam. Maka rombongan singgah dan bermalam di masjid kecamatan Ndawe. Baru, setelah sholat subuh langsung menuju muria. Di Masjid kami diterima dengan senang hati, Ta’mir masjid mempersilahkan dengan menggelarkan karpet untuk kami tidur. Ibu-ibu dan kaum perempuan ditempatkan di dalam, sedangkan kaum lelaki di serambi.
Pagi-pagi sekali kami harus bangun. Rupanya warga sini (ndawe) ada acara Mauludan. Dengan membaca sholawat nabi bersama-sama sebelum shubuh, suasana dingin menjadi hangat. Saya ikut bergabung. Meskipun sebelumnya bingung, sebenarnya ini sudah manjing waktu subuh atau belum. Karena sebelumnya saya sempat mendengar adzan. Ternyata adzan pertama itu bukan adzan shubuh melainkan adzan untuk membangunkan sholat malam.
Sekitar pukul 05;30 kami sampai di kawasan Gunung Muria. Suasananya menakjubkan. Saya melihat pemandangan dari dalam bus begitu memukau. Di bawah gunung penuh dengan hamparan alam yang begitu indah. Dalam hati saya bergumam “SubhanaAllah” beberapa kali.
Untuk sampai di makam Sunan Muria kami harus naik gunung. Bisa dengan jalan kaki melewati lorong-lorong tangga atau naik ojek. Kebanyakan rombongan, pada naik ojek. Tapi saya memilih yang pertama. Dengan begitu semangat saya menaiki tangga demi tangga. Tidak terasa, sekitar 25 Menit saya sampai di pusara Sunan Muria. Meskipun naiknya begitu menanjak dan licin, mampu saya taklukan. Capek sih iya, tapi dengan penuh semangat saya mampu sampai di atas.
Tidak begitu lama kami di dalam makam. Hanya sekitar 10 Menit. Suasana lorong menuju makam sudah dibangun megah. Lantainya sudah berkeramik, jadi peziarah harus diwajibkan melepas alas kaki dan dibawa, karena pintu keluarnya beda. Ini menjadi ajang rizki bagi penjual kresek untuk tempat sandal atau sepatu. Bayangkan ! Kresek hitam satu buah, dibandrol Rp. 500. Bisa menjual 100 kresek maka uang Rp. 50.000 masuk kantong.
Selain jalannya terjal, rupanya cuaca tak bersahabat. Pagi-pagi sudah turun hujan dengan lebat. Ini juga menjadi ladang rizki bagi penjual mantel (Jas Hujan) dari plastic. Satu mantel seharga 5.000. Bisa menjual 20 Mantel maka Rp. 100 mampu diraup. Saya memilih tidak membeli dan menerjang hujan dengan berlari.
Pukul 08;00 melanjutkan perjalanan. Tujuan kedua adalah makam Sunan Kudus. Untuk sampai disana kira-kira satu jam perjalanan turun dari gunung muria. Sampai di Kudus pukul 09:00. Kami harus jalan dari tempat parkiran menuju makam Sunan Kudus. Sebenarnya ada beberapa transportasi pilihan. Ada becak, ojek, len atau naik dokar. Tapi saya memilih jalan kaki. Di kudus saya dan rombongan menikmati panorama menara kudus. Tanpa disuruh, kami langsung foto-foto dengan Background menara kudus. Kalau dulu, hanya bisa menyaksikan menara kudus dari gambar kalender, hari ini saya bisa melihat langsung, bahkan duduk di pondasi bawah.
Setelah puas dengan menara kudus. Rombongan masuk di makam Sunan Kudus. Ada yang unik, beberapa rombongan terlihat menyentuh pintu gerbang bagian atas. Tanpa tau apa artinya banyak orang yang melakukan. Saya pun demikian, ikut-ikutan menyentuh pintu. Setelah dari makam saya duduk di masjid Al-Aqsho sebelah menara. Konon, pintu gerbang masjid ini adalah pindahan dari Kerajaan Majapahit.
 Rombongan banyak menggunakan jasa becak untuk kembali ke tempat parkir bus. Tapi saya tidak. Dengan alasan ingin menjelajahi dan menikmati kudus, saya memilih jalan kaki lagi. Unik dan menarik menyaksikan rumah-rumah di kawasan kudus. Banyak rumah-rumah klasik, dengan design kuno. Itu terlihat dari pintu gerbang maupun pintu rumah yang terbuat dari kayu yang banyak ukirannya. Sambil menikmati, martabak telur puyuh saya menyaksikan pemandangan langka ini. Bila dibandingkan dengan Surabaya, maka jauh berbeda. Di Surabaya berdiri kokoh gedung-gedung pencakar langit .
Tujuan selanjutnya adalah makam Sunan Kalijaga, di Kadilangu, Demak. Sampai disana tengah hari. Kami langsung menuju makam Sunan Kalijaga. Berbeda dengan makam sunan-sunan sebelumnya, di Kalijaga sudah terbangun rapi. Lorong menuju ke makam layaknya stasiun. Karena kiri-kanan terdapat banyak penjual oleh-oleh yang standnya tersusun rapi.
Masjid agung demak menjadi tujuan ziarah kami terakhir. Untuk sampai di Masjid Agung Demak kami pun harus singgah dulu di tempat parker bus yang agak jauh dari masjid. Ini pengalaman pertama saya naik dokar, setelah beberapa tahun tidak pernah naik. Seingat saya umur balita dulu saya sering diajak ibuk ke pasar naik dokar.
Sebelum ke Makam Sultan Demak (Raden patah), saya merebahkan badan di Masjid agung. Sholat dluhur dan asyar sudah saya jama’ Qoshor di Mushola Makam Sunan Kalijaga tadi. Ingin naik di masjid lantai dua tapi rupanya tangga menuju kesana dikunci. Saya hanya menyaksikan 4 tiang hasil pembangunan Sunan ampel, Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Nama ke-Empat wali itu terpasang di tiap tiang. Tiang yang besarnya hampir serangkulan dua orang dewasa itu mempunyai daya tarik tersendiri bagi peziarah. Ingin juga masuk ke Museum Masjid Agung Demak, namun ternyata tutup.
Sebelum kembali di Parkiran bus, saya menikmati hijaunya alun-alun kota Demak. Inilah yang merupakan cikal-bakal arsitektur di setiap kabupaten/kota. Yang mana letak masjid berada di sebelah baratnya alun-alun dan pusat pemerintahan berada di sebelah timur.
Sambil jalan kaki, saya menjumpai rekan-rekan IPNU PC Demak yang sedang menyelenggarakan Acara Maulid Nabi di kantor PCNU Demak. Saya sempat, bersalaman dengan mereka dan berbincang-bincang sebentar. Saya memperkenalkan diri, kalau saya adalah pengurus IPNU juga, di PKPT. IAIN Sunan Ampel Surabaya. Tidak sempat masuk di tempat acara, saya harus segera sampai di bus, karena rombongan pasti sudah menunggu lantaran mereka banyak yang naik becak/ojek.
Masjid Agung Demak adalah tujuan terakhir kami dalam perjalanan ziarah kali ini. Pukul 17:00 kami langsung pulang ke Jombang dengan melewati arah sebaliknya. Demak, kudus, Pati, Rembang, Tuban, Lamongan (Babat), Jombang menjadi rute perjalanan pulang kami. Sepanjang Perjalanan dari Demak ke Kudus diguyur hujan, saya terpaksa bertahan dengan kejatuhan air hujan. Akhirnya sampai di Jombang dini hari. Benar-benar melelahkan !!!

Muhammad Ali Murtadlo
Jombang, 25 Januari 2013

Sabtu, 19 Januari 2013 (Episode: Pertama Kali Menjadi Surveyor)


Sorry brow !!!
Itu yang saya katakan ke Setyo, kawan saya, saat tiba di markas, karena saya bangun kesiangan. Padahal sudah janji kalau jam 05 tepat harus berangkat ke Kota Pasuruan, untuk meneruskan penelitian. Tergesa-gesa saya mandi, shubuh dan kemudian berangkat pukul 05:40. Sebelum berangkat menikmati segelas teh hangat dan sebuah tempe.
Ada kejadian aneh di sekitar masrkas pagi ini. Saya tidak mengetahui pasti, yang jelas tadi ada polisi. Kabar yang beredar sepertinya ada “orang tidak waras” memukuli orang lain. Saya tidak mengetahui kepastian beritanya karena harus berangkat ke tempat penelitian.
Sekitar 1 setengah jam perjalanan kami tiba di Kota Pasuruan. Kami sudah tahu tempatnya, karena kemaren kamis (17/01) sudah bertandang kesana. Namun hanya mengumpulkan data dari pak Kades dan Pak RT. Untuk hari ini waktunya untuk langsung wawancara dengan beberapa responden terpilih. Wawancara ini terkait dengan aspirasi masyarakat menjelang Pilgub 2013 dan Pilpres 2014.
Sampai di Kelurahan Mayangan, Panggung rejo, Kota pasuruan sekitar pukul 07:20. Sebelum menuju rumah responden, kami berniat untuk sarapan dulu, karena nanti kalau sudah turun ke lapangan pasti lupa sarapan. Kami langsung menuju warung sebelah pelabuhan pasuruan.
Dengan sepiring nasi rawon yang ditanya harga perporsinya terlebih dulu, karena takut kemahalan, kami mengisi perut untuk menambah kekuatan. Sambil menikmati panorama bangkai kapal pengangkut garam dan obrolan penyemangat kami melahap habis menu makanan itu.
Kenapa harus Tanya harga perporsi? kata setyo pernah kena skak, makan bakso tanpa ditanya harganya, waktu bayar kena 12.000, padahal baksonya tidak enak-enak amat. Penjual nasinya ramah. Ketika saya Tanya aslinya mana, beliau menjawab dari Madura, tapi sudah tinggal disini sejak usia 15 Tahun. Ibu yang sudah berumur diatas 60 tahun itu saya jadikan “korban pertanyaan”.
Baru sekitar pukul 08:00 kami siap beraksi. Tujuan utama adalah rumah Pak RT 4 RW 1 yang kemaren kamis begitu ramah dengan kami. Namun rumahnya tidak ada penghuninya saat kami mengetuk pintu. Kata tetangga sedang mengantar anaknya ke sekolah. Sempat kecewa, tapi tidak begitu lama. Kami langsung ke rumah tetangga sebelahnya untuk menanyakan rumah orang-orang yang akan kami jadikan responden. Total yang belum kami wawancarai ada 9 orang, jadi hari ini harus kerja ekstra karena malam ini juga, data harus dikumpulkan.
Kami sempat merasa takut dan ragu. Apakah bisa berhadapan dengan orang-orang baru, jenis masyarakat yang beragam, karakter yang berbeda-beda, apalagi menurut penuturan pak Syafaat (Pegawai Kelurahan) Kelurahan sini termasuk berjenis masyarakat keras, karena mayoritas orang Madura. Tapi itu hanya fikiran dan spekulasi semata, saya yakin ketika dijalani pasti tidak sesulit yang dibayangkan.
Ternyata benar, bahwa sesuatu ketika hanya difikirkan akan terasa berat, namun jika sudah dikerjakan akan menjadi ringan. 9 responden dengan waktu rata-rata wawancara 1 jam dan pertanyaan yang hamper 200 adalah termasuk berat, apalagi respondennya ditentukan acak, dan belum tahu ada tidaknya orangnya.  Namun dengan semangat dan kerja keras, kami berhasil menyelesaikan.
Pertama kami mewawancarai pak Rahmat Burhanudin (42), kemudian pak Abd. Rohim(60). Kedua orang itu masih berada dilingkungan RW 4 RT 1. Bu halimah (45), mas Fuad Hasan (25), pak Fauzi (35), adalah responden yang berada di lingkungan RW 1 RT 1. Mereka kami wawancarai sebelum waktu dluhur tiba. Pewawancara utama saya, setyo hanya saya ajak nemeni.
Empat Responden lainnya, Anik zulaikha (55), Ida Qomaria (45), Diana Nuriya (22), Muhammad (25) kami wawancarai setelah dluhur. Namun sampai setengah 5 baru tiga yang dapat saya kunjungi rumahnya, terakhir di Diana Nuriya. Untuk Muhammad saya putuskan untuk diwawancarai setelah maghrib saja. Semua responden menerima kami dengan baik. Malah beberapa responden menyuguhi kami minum, teh anget, kopi, dan beberapa jajan.
Sempat kerepotan dengan nama-nama responden yang tidak ada dirumah, tapi dapat teratasi dengan mencari pengganti.
Dibilang capek sih iya, tapi dengan semangat dan optimis, akhirnya capek tadi tidak terasa. Dengan senda gurau dan aksi gokil-gokilan kami mampu menyulap capek menjadi energi positif. Makan siang kami tunda. Kami baru makan sekitar pukul 17:00, itupun menunya seadanya, karena warung sudah mau tutup, dan menu utamanya sudah habis.
Untuk sholat dluhur, asyar, dan magrib kami memanfaatkan masjid kelurahan situ, masjid Quba namanya. Namanya sebanding dengan bangunannya. Lumayan megah. Jika dibandingkan dengan masjid desa saya, masjid ini jauh lebih bagus. Luas, bersih, dan indah dengan ornamen-ornamen yang menghiasi setiap sudut masjid.
Kembali ke Surabaya pukul 19:40. Hujan cukup deras mulai dari kota pasuruan, sampai Surabaya. Meskipun bayah kuyup, menggigil dan kedinginan tidak menyurutkan semangat saya untuk terus belajar, mencari pengalaman. Karena Pengalaman adalah Guru terbaik. Experience is The Best Teacher ! . Terima kasih kawan !

Muhammad Ali Murtadlo
Surabaya, 20 Januari 2013

Minggu, 06 Januari 2013 (Episode: Jatim Park II)


Akhir pekan yang mengesankan. Ada agenda ziarah dan rekreasi bersama Ust/Ustadzah TPQ, Al-jihad. Tujuan utama adalah ke Jombang, ziarah di Makam Gus Dur, dan ke Malang, Rekreasi di Jawa Timur Park 2.
Kami berangkat bertiga belas orang. Dengan naik Elf merah, pukul 06;00 kami berangkat dari Surabaya, tiba di Jombang sekitar pukul 08:30. Saya dikagetkan dengan suasana di sana. Terdapat gang-gang yang mirip dengan gang di Makam Sunan Ampel Surabaya. Suasananya pun layaknya Makam Sunan Ampel.  Padahal 2 tahun yang lalu saat saya berkunjung ke sini belum seperti ini. Masih bisa masuk lewat pintu utama pondok, namun sekarang harus lewat-lewat gang yang saya sebutkan tadi. Menarik memang, ini menjadi ladang penghasilan bagi warga Tebu ireng. Saya menyebutnya, Gus Dur membawa berkah.
Setelah usai tahlil di Makam Gus Dur & K.H Hasyim Asy’ari, kami melanjutkan perjalanan menuju Malang. Rutenya ke selatan lewat, Ngoro (Jombang), Kandangan (Kediri), baru masuk di Kabupaten Malang. Kami berhenti di masjid Desa Kasembon, Kec. Kasembon, Kab. Malang untuk sarapan. Masjid kami jadikan tempat sarapan, karena tadi sudah membawa bekal berupa nasi bungkus yang disiapkan oleh Ibu Amin, Kepala TPQ. Menunya nikmat, separo telur asin dicampur tempe dan tahu kecap dengan dibalut kebersamaan menjadikan sarapan kami lebih berkesan. Selesai sarapan kami melanjutkan perjalanan.
Butuh waktu Dua Jam lebih untuk sampai di Jatim Park, Batu Malang. Di dalam mobil kami saling bersenda gurau bersama, dengan guyonan masing-masing yang mengundang tawa. Tapi tak begitu lama suasana berubah hening, karena tertidur pulas. Saya pun menidurkan diri di pojok belakang sebelah kanan. Mendekati Lokasi saya baru terbangun.
Saya yang baru pertama kali ke Jatim Park 2, Malang merasa takjub. Suasananya menyenangkan sepertinya. Sampai disana saya disuguhi dengan pemandangan mobil-mobil mewah yang terparkir di Beberapa tempat. Saya berkesimpulan, ternyata pengunjungnya ramai banget.
Sebelum masuk kami sholat dluhur dahulu. Baru sekitar pukul 12:30 kami masuk, dan harus mengantri. Dengan menunjukan tiket yang selanjutnya dipakai sebagai Gelang Terusan, kami menikmati segala keindahan di Batu Secret Zoo, Wahana Bermain, Museum Satwa, dll.
Kami disuguhi dengan berbagai satwa langka. Kebanyakan berasal dari Afrika, dan Amerika Latin. Mulai dari jenis monyet, burung, ikan, ular, harimau, singa, domba, dan sebagainya. Habitat disesuaikan dengan kondisi lingkungan hidup dari satwa tersebut. Macam-macam habitat yang dapat dilihat antara lain padang pasir, hutan, daerah salju, dan habitat lainnya. Setelah puas dengan berbagai macam satwa langka kami sampai di wahana bermain. Namun sebelum sampai diwahana bermain, kami melewati Afrika land. Kawasan yang menyuguhkan hewan-hewan khas Afrika dengan seting habitat seperti afrika, membuat kami seakan-akan berada di afrika sungguhan.
Sampai di kawasan bermain, gerimis turun. Sial, niatnya mencoba Shark Coaster namun harus tertunda dan menunggu hujan reda. Setelah hujan reda dan antrian panjang sudah terlewati akhirnya saya bisa menjajal wahana ini. Seru tapi kurang menantang. Dari Shark Coaster saya menuju Horor House. Rumah hantunya tak begitu menyeramkan,biasa-biasa saja. Malah lebih menantang yang ada di Taman Safari, Prigen, Pasuruan, yang dulu pernah saya jajal.
Selesai di Horor House, menuju “Menjelajah 5 Benua” namun sebelum kesana kami narsis-narsis berfoto ria bersama Hantu penjaga penitipan barang. Wajahnya menyeramkan, saya menggodanya untuk tersenyum tapi gagal. Wajah menyeramkannya tidak bisa berubah sedikitpun, meskipun hanya senyum.
Meskipun saya belum pernah menjelajah 5 benua sungguhan, hari ini saya menjelajah replica 5 benua, mulai dari Asia, Afrika, Amerika, Eropa, dan terakhir Antartika. Dengan duduk manis di kereta yang disediakan dan berjalan melewati lorong-lorong, kami menyaksikan suasana replika ke 5 Benua tersebut. Ada budaya dari masing-masing benua, tempat khas, musim, keadaan geografis dan lain-lain, terakhir pada saat di Antartika kami diguyur salju buatan. Seru dan mengesankan.
Hujan turun semakin lebat, niatnya menjajal semua wahana namun terhenti. Semua permainan tidak beroperasi selama hujan turun. Terpaksa kami menikmati gerimis di Ford Court dengan menyeduh Pop Mie sambil menunggu hujan reda. Jam sudah menunjukan pukul 16:30, tapi hanya beberapa wahana yang bisa saya jajal. Akhirnya hanya berfoto ria bersama para Ustad/Ustadzah dengan berlatar belakang berbagai panorama yang menakjubkan. Kami mengambil background Gunung di sebelah wahana Batu Adventure.
Sebelum menuju pintu keluar saya menjajal satu wahana lagi yang kembali beroperasi, River Adventure. Dengan mengendarai kapal, kami diajak berkeliling mengitari sungai. Panoramanya asyik, apalagi setelah hujan. Niat untuk ke Toilet tertunda, dan baru saya lampiaskan di toilet pintu keluar.
Akhirnya kami meninggalkan Kota malang setelah sebelumnya makan malam di Restoran Lesehan, H. Sholeh dan dilanjutkan mampir di Pasar Lawang untuk membeli oleh-oleh untuk teman yang di markas. Pukul 22:30 baru sampai markas, Sholat, dan kemudian merebahkan badan, namun tidak bisa tidur hingga pukul 01;00. Hmmm, Liburan yang benar-benar mengasyikan.

Muhammad Ali Murtadlo, 07 Januari 2013

Rabu, 02 Januari 2013


Rabu, 02 Januari 2012
Tidak ada yang menarik hari ini. Bangun kesiangan karena habis begadang. Mungkin besok-besok kebiasaan itu sedikit demi sedikit saya rubah. Sebenarnya saya sudah menyusun jadwal. Habis Isya’ membaca hingga puku 21:00, dilanjutkan dengan nulis atau online hingga maksimal pukul 00;00 kemudian istirahat. Malam jam 03;00 bangun sholat, dan menunggu adzan shubuh. Setelah shubuh menulis catatan harian, Jam 06;00 siap-siap ke Sekolahan (Selasa, Rabu, Kamis) kemudian dilanjutkan dengan belajar dikampus, atau mungkin ada agenda-agenda insidentil lainnya. Namun schedule itu hanya berjalan beberapa hari dan kemudia lupa (lebih tepatnya melupakan). Mulai hari ini saya bertekad untuk menerapkan kembali jadwal yang telah saya susun tersebut.
Siang sebelum dhuhur sarapan dan kemudian mengerjakan tugas kuliah bersama fahrul. Setelah dhuhur berniat ke Toga Mas, membeli buku tapi saya urungkan, karena hendak turun hujan. Setelah Asyar ada pertemuan dengan kawan-kawan AMBISI angkatan 2010. Pertemuan kali ini membahas rencana kegiatan untuk semester V yang sempat tertunda. Disepakati, untuk membuat jaket dan sisa uangnya digunakan rekreasi. Pulang menjelang maghrib kehujanan.
Malam ini tidak ngelesi, anaknya masih di Bandung, belum pulang. Hanya tidur-tiduran sambil mendengarkan ceramah K.H Anwar Zahid, di daftar putar MP3 HP. Lucu ceramahnya, meskipun sudah dengar berulang-ulang, mendengarkan lagi tak bosan. Ada unsur menghibur juga, terkadang saya sampek ketawa terbahak-bahak. hehe.
Film “Mongol: The Rise of Jengis Khan” menemani malam saya hari ini. Film yang mengisahkan asal muasal Jengis Khan ini sangat mendidik. Bangsa mongol yang terdiri dari beberapa Khan, seperti khan Merkit, Jamukha, Temujin, dll ternyata takut dengan Halilintar.
Tokoh utama dalam film ini adalah Temujin. Seorang anak yang disiksa lantaran ayahnya diracuni oleh khan lain saat Temujin diajak mencari pengantinnya, padahal saat itu Tenujin baru berusia 9 Tahun. Dan kemudian Temujin dihianati oleh prajurit sang ayah, akibatnya Temujin dijadikan objek siksaan. Saya akui Temujin mempunyai semangat yang kuat untuk membalaskan dendam atas kematian dan penghianatan atas ayahnya. Hingga akhirnya Temujinlah yang menjadi khan terkuat diantara beberapa khan, karena sikap baiknya, semangatnya, tentunya kekuatannya. Dan satu lagi, dia adalah satu-satunya Orang mongol yang tidak takut dengan Halilintar.
Di akhir film, Temujin menciptakan aturan-aturan hukum dengan menyatukan beberapa khan menjadi satu yakni bangsa Mongol. Siapa yang menghianati khan-nya akan dibunuh. Sehingga setelah adanya aturan hukum itu tidak ada lagi peperangan antarkhan dalam bangsa mongol.
Film selesai, berniat mengerjakan tugas namun ketiduran sampai shubuh. NB masih menyala, akhirnya tugasnya ditunda setelah shubuh baru mengerjakan, padahal hari ini harus dikumpulkan. Disela-sela malam tadi, kepikiran dan menghawatirkan seseorang yang lagi nggak enak badan.

Muhammad Ali Murtadlo, 03 Januari 2013


Selasa, 01 Januari 2013


Disaat kebanyakan orang merayakan tahun baru, saya memilih berada di kamar. Menyendiri merenungi, dan kemudian menulis catatan akhir tahun. Sebenarnya kepengen ke Mendaki Bromo, ada tawaran untuk berekspedisi ke sana menancapkan bendera IPNU, dan menyaksikan sunrise pertama di Tahun 2013, namun karena beberapa pertimbangan saya membatalkan rencana itu.
Malam pergantian tahun ini, Surabaya hujan. Tidak begitu deras sebenarnya, tapi tak kunjung reda. Baru mendekati tengah malam, hujan mulai memberhentikan rintikannya. Mungkin ingin menyaksikan ledakan kembang api, atau memang sudah saatnya berhenti saya tidak tahu, yang jelas suara kembang api menggemuruhi langit Surabaya saat ini. Saya hanya bisa mendengarkan gemuruhnya tanpa ikut menyulutnya.
Baru kira-kira pukul 00:30 saya keluar kamar. Menuju tempat pesta tahun baru bersama kawan-kawan FKMB (Forum Komunikasi Mahasiswa Bojonegor) di Frontage Ahmad Yani depan Kapolda. Sampai pukul 02;00 saya disana. Bakar-bakar jagung. Sayangnya saya tidak kebagian jagung yang layak. Hanya tersisa jagung yang tidak enak untuk dibakar karena terlalu muda, dan cocok kalau di sayur menir.
Disela-sela itu saya mengisinya dengan berasyik-ria bersama kawan-kawan FKMB, maen ABC. Dengan memasang jari tangan dan kemudian menghitung ABC dan seterusnya hingga hitungan jari terakhir. Di hitungan terakhir itulah kami saling menebak nama-nama iklan yang sering nongol di TV. Karena saya jarang nonton TV, kurang begitu hafal nama-nama iklan, jadi sering kalah. Hukumannya minum air. Dengan diiringi gelak tawa, kami begitu menikmati permainan ini. Sampai tak terasa bahwa waktu sudah pagi.
***
Mulai siang hujan kembali mengguyur Surabaya. Sehingga memaksa saya untuk tidak melakukan apa-apa, hanya menonton film. The Freedom Writers Diary, film yang saya pilih untuk ditonton. Film ini secara umum mengisahkan tentang pendidikan, kepenulisan, dan persahabatan.
Tokoh utamanya adalah seorang guru baru disebuah sekolah yang mengajar dengan sistem berbeda dari sistem pada umumnya. Sehingga ada guru lain yang menolak dengan cara mengajarnya. Namun para siswa sangat menikmati dengan sistem pembelajaran yang guru itu terapkan. Para siswa disuruh untuk membaca buku catatan harian Anne Frank (The Diary of Anne Frank). Disinilah sebenarnya letak inti dari film ini yakni tentang kekuatan sebuah tulisan, khususnya Catatan Harian (Diary) yang mampu menjadikan si penulis terkenang dan bahkan bisa mempengaruhi si pembaca.
Kalian tahu kan Anne Frank? Anne Frank adalah remaja putri biasa berkebangsaan Belanda keturunan Yahudi. Ia mulai menulis diarynya pada ulang tahun ke-13, dan mengakhirinya pada usia 15 tahun. Diary yang disebutnya dengan “Kitty” ini adalah hadiah ulang tahun dari keluarganya saat itu, dan mulai diisinya dengan berbagai curahan hati yang dia rasakan. Mulai dari deskripsi tentang sahabat dan teman sekolahnya, hingga kegemaran, nilai yang diperoleh, situasi sekolah, hingga kecintaannya pada Belanda, negerinya.
Anne adalah anak kedua dari 2 bersaudara, dengan Margot sebagai kakak yang berselang beberapa tahun darinya. Anne tumbuh dalam keluarga yang cukup secara finansial, ayah yang sangat memperhatikan, dan ibu yang terus berada di rumah namun tak pernah dekat dengan Anne. Untuk beberapa alasan, Anne tak pernah bisa dekat dengan ibu dan kakaknya, hanya ayahnya yang sangat dia kagumi dan bisa menjadi temannya di rumah.
Diary ini mungkin tak akan menjadi sesuatu yang spesial jikalau saat itu Nazi Jerman tak mulai menginvasi Belanda dan menyingkirkan orang keturunan Yahudi. Masa pelarian dan persembunyian keluarga Frank pun dimulai, di Secret Annex, bersama dengan 3 orang dari keluarga van Peels/van Daan, dan seorang yang dokter gigi bernama Albert Dussel.
Kisah dalam buku ini bukanlah fiksi, karena ini adalah tuangan isi hati seorang Anne yang harus menghabiskan 2 tahun masa remajanya di persembunyian berupa loteng sempit bersama 7 orang lainnya. Bayangkan bagaimana rasanya 2 tahun berada di tempat tertutup dengan fasilitas kebersihan alakadarnya, dan makanan yang terbatas karena harus diselundupkan oleh Bep, Miep, Jan, Kugler dan Kleiman – orang-orang Belanda yang baik hati dan mendasarkan tindakan mereka pada rasa kemanusiaan dan kasih, bukan perbedaan ras.

Anne mengisahkan pergumulan hatinya dengan sang ibu yang tak pernah membanggakannya, perbedaannya dengan sang kakak yang begitu memisahkan mereka, serta rasa sayang dan hormatnya pada sang ayah meski disertai juga dengan sikap berontak seorang remaja. Di tempat pengasingan seperti itu, rasa cinta dan tertarik pun muncul dari Anne pada Peter van Daan, berawal dari terbiasanya hidup dan belajar bersama, hingga saling berbagi curahan hati.
Intrik dan konflik pun tak hentinya terjadi, antara Nyonya Frank dan Nyonya van Daan, Tuan Frank dan Tuan van Daan, maupun Dussel dengan Anne, dan yang lainnya. Ada 8 kepala dengan 8 karakter yang berlainan, tinggal dalam tempat sempit bersama, tanpa pernah terpisah, dan keluar menikmati udara segar selama 2 tahun, pantas saja menimbulkan beragam konflik panas-dingin. Mulai dari masalah makanan (kentang) hingga masalah berita politik di radio, bisa berkepanjangan menjadi debat maupun perang dingin.
Bukan hanya perihal tinggal bersama itu yang harus diatasi, rasa takut dan gentar kalau-kalau Nazi Jerman menemukan tempat persembunyiannya pun terus membuat mereka tegang. Dalam krisis itulah terlihat kepribadian asli masing-masing. Ada yang sanggup saling membantu, namun ada juga yang sibuk mengurus dirinya sendiri hingga tak memikirkan kebutuhan yang lain. Harapan mereka akan dapat keluar dengan selamat setelah perang berakhir, ternyata tak terkabul. Pihak Jerman mengetahui terlebih dahulu, sehingga semuanya ditangkap dan diasingkan ke tempat tahanan masing-masing, mulai dari Auswitch hingga tempat lainnya di penjuru Jerman, dan negara lain di sekitarnya.
Anne seorang remaja yang jujur dan mengakui isi hatinya, paling tidak kepada diarynya, yang ia jaga dengan segenap kekuatannya. Membaca tulisannya seakan membaca sebagian ketakutan dan kegalauan yang dialami seorang remaja, tentang pergaulan, seks, hubungan dengan keluarga, dan ketertarikan pada lawan jenis. Anne adalah seorang gadis yang sangat menyukai sejarah, namun tak terampil dalam ilmu yang melibatkan angka. Anne seorang yang murah senyum dan ceria, hangat dan bersahabat. Terlihat dari beberapa fotonya yang juga ditampilkan di buku ini, Anne memiliki banyak sahabat dan tampaknya sempat memiliki kehidupan remaja yang berbahagia.
***
Saya menjadi lebih semangat lagi untuk menulis catatan harian setelah menonton film ini. Mungkin dengan cara menuliskan segala aktivitas keseharian bisa membuat saya merasa bahwa saya pernah melaksanakan aktivitas itu sebelumnya. Meskipun hanya sekedar celotehan yang mungkin bagi sebagian orang dianggap sesuatu yang lebay, namun bagi saya ini bukan masalah lebay atau tidak, ini adalah maslah kepuasan batin. Ketika saya mampu merangkum segala aktivitas hari ini kepuasan batin itu akan terasa.
Hujan belum juga reda sampai setelah Isya’. Dengan membawa paying saya pergi ke penjahit untuk menjahitkan seragam yang dulu sempat tertunda. Pulang, mampir di kost teman, menonton film Tentang Palestina. Filmnya seru, tentang perlawanan warga palestina melawan tentara Israel yang membabi buta menyerang warga palestina yang tak berdosa. Dengan dibantu intelegen dari Turki akhirnya Warga palestina berhasil mengalahkan otak dari tentara Israel, Moesha.
Pulang pukul, 22:00 Pintu pagar ditutup akhirnya naik lewat samping. Mengesankan malam ini dengan ditemani suara kipas angin, saya menyelesaikan catatan ini hingga pukul 01:47 WIB.

Muhammad Ali Murtadlo, 02 Januari 2013