Minggu Pertama Bulan April 2013



Berharap ketidakistimewaan di Maret lalu tidak terulang, sehingga mau tidak mau harus bekerja lebih ekstra lagi. Seperti awal Maret lalu, di awal April ini saya pun menyusun beberapa target yang harus dicapai. Tidak muluk-muluk tapi butuh keseriusan untuk mewujudkan. Ada beberapa target di bulan ini. Tulisan harus dimuat di Media, Opini minimal sembilan, Esai satu, Resensi satu, Puisi minimal sepuluh, Membaca buku minimal lima, Puasa sunah senin-kamis, menghafal vocab B. Arab dan B. Inggris setiap hari 3 vocab baru. Target di atas saya ikrarkan di Masjid Sunan Ampel, bersama kawan-kawan LA sekitar pukul 02:45 dinihari.
Malam pertama bulan April kemaren saya bersama kawan-kawan Laskar Ambisius (LA) menghabiskan malam di Taman Jembatan Merah Plaza (JMP) dan dilanjutkan di Makam Sunan Ampel. Di sana kami benar-benar tahu, betapa berharganya waktu, terutama waktu pergantian bulan. Bahwa pergantian bulan adalah waktu untuk mengevaluasi, merefleksi dan meresolusi makna.
Sepulang dari Ampel saya menjadi semakin terpacu. Terpacu untuk lebih bijak lagi dalam memanfaatkan waktu. Saking semangatnya saya tidak menghiraukan kesehatan. Meskipun tak makan sahur saya memaksakan diri untuk puasa. Alhamdulillah kuat, memang sesuatu yang diniati baik, meskipun dirasa mustahil akan mendapat hasil yang diinginkan.
Rabu, 03 April, saya mendapat kesempatan mengikuti seminar nasional “Membingkai Kembali Islam di Indonesia” mewakili IPNU IAIN Sunan Ampel. Acara tersebut diadakan dalam serangkaian dies natalis CSS MoRA. Bertempat di Auditorium Sunan Ampel Surabaya. Hadir sebagai pemateri, Zuhairi Misrawi (Pengamat Politik Timur Tengah yang gagasannya telah tersebar di berbagai media, baik cetak maupun online).
Selain itu ada Henry Shalahuddin, seorang pengamat dan peneliti di INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations). Belakangan saya ketahui, ternyata Henri Shalahudin adalah putra kelahiran Bojonegoro dan satu almamater dulu dengan saya di Mts At-tanwir dan sekarang tinggal di Depok, Jawa Barat. Bedanya, ketika beliau sudah lulus (1989) saya belum lahir. Pemateri ketiga adalah KH. Abdurahman Nafis (Ketua bidang fatwa MUI Jatim).
Seru diskusinya, mengangkat bagaimana membingkai kembali islam di Indonesia yang boleh saya katakan sebagai negara abal-abal. Negara islam bukan, sekuler pun bukan. Indonesia adalah negara yang menerapkan sistem demokrasi. Demokrasi dirasa sudah sesuai dengan Indonesia yang merupakan negara majemuk, terdiri dari berbagai ras, suku, etnis dan agama. Dengan pancasila sebagai asas saya kira sudah terwakili dengan berbagai ideologi dari berbagai agama maupun. Lima sila dalam pancasila sudah representative memakili segala bentuk kemajukan bangsa.
Sebelum acara usai, saya keluar, ada jam kuliah.!
***
Hidup memang untuk mengukir kenangan. Apapun kenangan itu pasti akan membekas dalam sanubari setiap manusia. Untuk itu saya hendak mencipta kenangan yang sampai kapanpun akan selalu saya ingat. Bersama yang dicinta mengukir kenangan di kota Surabaya.

Muhammad Ali Murtadlo
Surabaya, 05 April 2013

Minggu Terakhir Bulan Maret 2013



Ternyata, semangat itu seperti iman, kadang bertambah kadang pula berkurang.-Ali Murtadlo El-Fauzy
Bukan maksud memanjakan diri, tapi mengistirahatkan diri dari berbagai pergolakan pikiran. Pada minggu ini saya belum bisa sepenuhnya mempertahankan keseimbangan diri. Semangat seakan pudar dengan terpaan gejolak yang sebenarnya tidak seberapa. Masih banyak yang saya inginkan tapi banyak pula yang harus dikorbankan.
Biarkan orang menganggap saya sebagai orang munafiq, gagal, tidak dalam pendirian, dan lain-lain. Tapi memang faktanya demikian, target yang saya canangkan awal bulan lalu tidak dapat saya penuhi seratus persen. Bukan karena saya lalai, tapi sepertinya keberutungan belum sepenuhnya berpihak.
Saya menyadari sebaik apapun niat jika tak ada usaha yang hebat, maka hanya sebatas niat. Begitu juga, sehebat apapun usaha jika belum ada keberuntungan maka akan sebatas usaha. Jadi keberuntungan mempunyai andil dalam proses pencapaian kesuksesan seseorang. Maka jangan terlalu bangga jika sudah mempunyai niat dan berusaha sekuat tenaga, masih ada penentu, yakni keberuntungan.
***
Awal minggu terakhir bulan ini saya hadir dalam “Dauroh Aswaja” yang diselenggarakan PKPT. IPNU-IPPNU IAIN Sunan Ampel Surabaya. Bertempat di Gedung Setia Aswaja, Wage, Sidoarjo. Selama dua hari saya disana bersama 30 rekan-rekanita untuk mendalami materi ASWAJA (Ahlus Sunah Wal-jama’ah) dan berbagai materi lain, termasuk mengungkap kesesatan berbagai firqoh yang mengklaim dirinya sebagai firqoh najiyah. Meskipun pengurus, saya juga sebagai peserta.
Banyak hal yang saya dapatkan dari acara itu. Pendalaman materi, penambahan wawasan, bertambahnya kedewasaan, dan yang pasti dapat mengerti arti kebersamaan. Namun saat acara itu pula, muncul berbagai cerita mengusik yang sempat menggejolakan jiwa. Saya menyebutnya ini sebagai ujian. Tak perlu saya sebutkan, karena ini adalah masalah privasy antara saya dan beberapa orang yang ada dalam cerita. Kepada yang merasa, saya sudah memaafkan meskipun tidak minta maaf.
Saya seakan terbawa dengan kenyamanan. Nyaman dengan kondisi sekarang. Namun tanpa saya sadari, ternyata ada yang tidak nyaman dengan posisi ini. Setelah saya konfirmasi, ternyata hanya kesalahfahaman yang berkepanjangan. Salah faham sehingga beredar kabar tak sedap. Ya, begitulah. Namanya manusia punya telinga, punya mulut. Ketika mendengar kabar pasti akan cepat menyebar.
***
Rabu, 27 Maret 2013, bersama teman-teman kelas, saya ikut ke Lumajang. Ke rumah seorang teman yang baru pulang umroh. Dengan tiga mobil Avanza kami berangkat dari Surabaya pukul 10:30 sampai di Lumajang pukul 15:00. Dan pukul 17;00 kami kembali ke Surabaya. Tengah malam baru sampai di Surabaya.
Banyak hal yang saya dapatkan. Mulai dari yang mengesankan, lucu dan bikin ketawa hingga yang membuat saya merasa bersalah. Mengesankan karena dapat pengalaman baru bisa berkunjung ke tempat yang belum saya kunjungi sebelumnya. Lucu dan bikin ketawa mendengar cerita dari kawan yang pulang umroh. Dan merasa bersalah ketika singgah di suatu tempat dalam memoar cerita masa lalu.
Dari beberapa kejadian, peristiwa maupun perbuatan di atas saya sadar bahwa waktu memang tak dapat terulang kembali. Namun banyak hal yang seharusnya kembali. Semangat, kerja keras, optimis dan hal lain yang positif perlu untuk kita kembalikan. Saya menyadari, di minggu ini tak banyak yang dapat saya torehkan, tapi sejatinya banyak hal yang saya inginkan. Bukan karena memanjakan diri, tapi lebih untuk mengistirahatkan diri dan fikiran. Kembali membangkitkan semangat untuk masa depan !

Muhammad Ali Murtadlo, Surabaya, 29 Maret 2013

Minggu Ketiga Bulan Maret 2013



Tiga adalah angka ganjil. Ganjil dalam bahasa arab dikenal dengan “witir”, maka sholat yang bilangan rokaatnya ganjil disebut sholat witir. Dalam sebuah hadist mengatakan bahwa “Tuhan itu ganjil dan suka dengan yang ganjil”. Tanpa ikut-ikutan saya sebenarnya suka dengan angka-angka ganjil. Oleh karena itu di minggu ke-tiga bulan maret ini ada banyak hal yang saya sukai.
Di minggu kedua lalu, saya mendapat kesempatan mewakili AMBISI sebagai delegasi Kongres Mahasiswa Bidikmisi PTAIN Se-Indonesia di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Banyak pengalaman menarik yang saya dapatkan. Terutama pengalaman bisa bersua dengan kawan-kawan senasib seperjuangan dari beberapa daerah di seluruh Indonesia. Dari Gorontalo, Makasar, Banjarmasin, Yogyakarta, Surakarta, Salatiga, Ponorogo, Tulungagung, Kediri, Malang, Semarang, Jakarta, Banten, Bandung, Bengkulu, Lampung, Jambi dan lain-lain. Terlebih bisa bertemu dengan tokoh tokoh pendidikan saat Seminar Nasional di Gedung Soekarno, Rektorat UIN Maliki Malang.
Sepulang dari Malang saya merasa bahwa saya belum apa-apa dibanding temen-temen yang lain. Saya hanya satu diantara jutaan orang yang sama-sama mempunyai mimpi, sama-sama mempunyai cita-cita. Dan cita-cita itu pasti semua orang bersikeras untuk mewujudkan. Seolah-olah saya hanyalah semut kecil diantara jutaan (bahkan miliaran) semut yang memperebutkan makanan. Namun saya yakin, tidak ada semut yang mati gara-gara bertengkar atau saling gigit menggigit. Mereka pasti saling membantu untuk merengkuh makanan-makanan itu. Bukan begitu?
Mau tidak mau, kita harus menggelorakan semangat. Semangat dalam menjalani hidup jangan sampai luntur oleh apapun. Memang hidup di dunia hanyalah sebagai batu loncatan untuk sebuah perjalanan panjang menuju hidup yang sebenarnya. Tapi jangan sampai membuat kita menyerah untuk menaklukan dunia. Sabda Nabi “I’mal lidunyaaka ka annaka ta’isyu Abadan, Wa’mal li Akhirotika ka annaka tamuutu Ghodan”. (Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan Bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok).
***
Selasa, 19 Maret 2013 menjadi waktu yang “spesial”. Spesial bukan berarti saya senang karena hari itu adalah hari ulang tahun saya. Tapi spesial karena Allah masih mengizinkan saya bernafas di usia ke-20. Sebenarnya saya kurang suka dengan istilah ulang tahun. Karena bagi saya ulang tahun bukanlah pertambahan umur, melainkan berkurangnya jatah umur. Karena tanpa kita sadari, pertambahan usia adalah semakin dekatnya kita kepada “kematian”. Seperti syairnya Abu Nawas “Wa Umriy NaaQisun fi Kulli Yaumin” (dan umurku berkurang disetiap hari). Namun, saya tetap berdo’a, mudah-mudahan sisa umur yang akan saya tempuh di kemudian hari adalah umur yang barokah, fidiini, dunya, wal-Akhiroh. Amiiin !
Banyak yang mengucapkan selamat ulang tahun, bahkan ada yang memberi saya “kado”. Meskipun ucapan selamat kebanyakan dilontarkan lewat jejaring social, facebook, saya tetap berterimakasih kepada mereka semua. Karena bagaimanapun juga yang mengucapkan ucapan selamat adalah mereka yang peduli terhadap saya. Terlepas dari apakah mereka berniat tulus atau tidak, saya menganggapnya itu adalah sebuah do’a. Dan do’a adalah senjata ampuh untuk merengkuh sebuah kehidupan yang lebih baik. Kepada siapapun yang telah memberi ucapan selamat ulang tahun, saya ucapkan “Syukron Katsiron, Jazakumullahu ahsanal jaza”. Mudah-mudahan Allah membalasnya dengan berlipat ganda.
***
Seperti biasa, kuliah tetap saya laksanakan. Meskipun sempat jengkel dengan beberapa dosen yang tidak hadir, saya tetap memaknainya dengan positif. Namun sebenarnya kecewa dengan dosen yang demikian, kita capek-capek berangkat, dan ternyata setelah sampai di kelas tidak ada dosen. Kalau pahala sih sudah dapat, karena sebelum berangkat sudah ada niat untuk kuliah, dan niat baik itu meskipun belum dikerjakan sudah mendapat pahala. Tapi ilmu itu lebih berharga dari sekedar pahala. Bukan demikan?
Kebetulan, minggu ini, dimulai hari rabu (20/03) hingga Ahad (24/03) AMBISI ikut andil dalam Pesantren Outlook di Lapangan IAIN Sunan Ampel Surabaya. Walaupun tidak ikut berkontribusi banyak saya tetap ikut nimbrung di sana. Dengan tema “Bersama AMBISI menuju writing university” AMBISI memamerkan tulisan-tulisan teman-teman yang sudah tembus media. Baik media nasional maupun lokal, cetak maupun online.
Dari berbagai aktifitas dan pengalaman berharga diatas, saya mendapat pelajaran berharga. Bahwa kita sebagai manusia sebenarnya bebas menentukan pilihan dan jalan hidup kita masing-masing. Tergantung kita, mau atau tidak. Jika kita mau untuk sukses, maka dapat dipastikan kita juga akan sukses. Namun, sebagai orang muslim kita tidak boleh lupa bahwa semua perbuatan dan usaha kita selalu ada “campur tangan” Tuhan. WaAllahu A’lam.!

Muhammad Ali Murtadlo, Surabaya, 22 Maret 2013.

Minggu Kedua Bulan Maret 2013



Tidak terasa Maret memasuki pekan kedua. Seperti layaknya proses metamorfosis semua mengalami perubahan. Berubah kearah yang indah dan sesuai harapan. Seperti pekan pertama lalu, saya menyebut Maret adalah bulan saya, dan pekan kedua ini lebih mendekati tanggal “istimewa” yang saya sebut sebagai kelahiran “sang pemimpi”.
Minggu ini banyak hal baru yang saya dapatkan. Mulai dari pengalaman kecil hingga pengalaman besar yang semakin memberi saya suntikan motivasi untuk terus menjadi lebih baik. Saya bertekad target yang telah saya susun di awal bulan lalu harus tercapai. Dalam arti mau tidak mau harus terealisasi, dan jika tidak maka saya termasuk orang yang rugi karena telah gagal memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
Alhamdulillah, target 9 tulisan dimuat di media semakin terbuka. Minggu ini ada 2 Tulisan saya yang nongol di media. “Konflik Sabah: Pelajaran Bagi Indonesia”(Kabar Madura: Sabtu 9 Maret 2013. Harian Analisa; Sabtu, 16 Maret 2013) dan “Menjadi Guru Inspiratif” di muat di Rubrik Guru Menulis (Republika: 11 Maret 2013). Sebenarnya itu belum seberapa dibanding kawan-kawan lain yang berhasil menembus media lebih dari lima dalam seminggu. Namun bukan berarti itu membuat saya minder, justru membuat saya semakin terpacu untuk lebih hebat lagi.
Minggu ini saya menghabiskan waktu untuk kuliah dan selebihnya mengikuti kegiatan lain yang bermanfaat. Sabtu mengikuti Khotmil Qur’an bersama IPNU-IPPNU IAIN SA di Mushola Al-Ikhlas. Selasa malam Rabu saya manfaatkan untuk menghadiri acara Harlah IPNU di Masjid Ulul Albab IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Rabu malam kamis saya beserta lima teman mewakili AMBISI menjadi delegasi pada Kongres Mahasiswa Bidik Misi PTAIN Indonesia di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Berangkat pukul 22:30 dari Surabaya, sampai di Terminal Bungurasih pukul 00:00. Menunggu kawan dari UIN Alaudin Makasar yang mengajak berangkat bersama dari Surabaya ke Malang. Pukul 00:30 baru berada di Antrian Bus dalam Terminal.
Namun sial, ternyata bus malam menuju Malang hanya ada sampai pukul 00:00, dan baru berangkat lagi pukul 01:30, otomatis kami harus menunggu. Banyak travel yang menawarkan jasanya, namun kami tidak menggubriskan tawarannya lantaran harga begitu mahal. Kami lebih memilih menunggu hingga pukul 01:30. Niatnya ingin naik “Restu” tapi yang datang duluan malah “Zena”. Tapi tidak apa-apa, toh Zena juga ber-AC. Di dalam bus tak sadarkan diri, tidur sampai di Malang.
Sampai Malang pukul 03:45, kami menunggu di Terminal Arjosari. Panitia yang hendak menjemput tak kunjung tiba. Pukul 04;00 mereka baru tiba, kami diantarkan ke tempat Taxi. Sebel dengan sopir Taxi yang sok dan judes. Jika ada Taxi lain, kami tak sudi menaiki taxi itu. Dengan terpaksa kami menaikinya dan akhirnya sampai di UIN Maliki ketika jama’ah shubuh di Masjid Kampus selesai. Ini pertama kalinya saya di Kampus Malang.
Sedikit kagum dengan bangunan kampus disana. Masuk gerbang saja sudah merasakan aura perbedaan antara kampus saya dengan di sini. Beda jauh pokoknya , di sini bersih, indah dan tercium aroma menyejukan. Kalau di Surabaya, sejuk sih iya tapi bersihnya belum.
Sampai di depan masjid melihat santri yang baru selesai jama’ah subuh. Di sana semua santri diwajibkan jama’ah shubuh, setelah itu mengikuti program pengembangan bahasa (arab dan inggris). Sistem pembelajarannya bergerombol membentuk beberapa kelompok. Sebelum dimulai mereka berolahraga, sekedar menggerakan badan. Kami melihatnya sebelum hendak sholat shubuh di masjid. Kemudian kami diantarkan panitia menuju asrama masing-masing. Cowok ke asrama cowok dan cewek ke asrama cewek.
Pembukaan acara pukul 08;00, kemudian dilanjutkan dengan kongres hingga malam. Ada sedikit insiden di malam pertama ini, kami berempat bersekongkol untuk datang terlambat lantaran begitu capek dan pengen istirahat. Sebenarnya pukul 19;30 harus sudah di forum. kami datang pukul 20:30. Panitia mungkin jengkel melihat aksi kami. Kami berempat memang sering membuat “onar”. Datang terlambat dan di dalam forum sering bicara, tapi bicara mengeluarkan pendapat saat rapat.
Hari jum’at rapat pleno pembahasan AD/ART, PO, GBHO, Rekomendasi, dan sekaligus pemilihan Sekjen organisasi. Sempat ricuh dengan saling adu argumentasi. Akhirnya disepakati nama organisasi ini “Lingkar Bidik Misi (Lingdiksi) PTAIN se-Nusantara” dengan Sekjen Fadhil dari IAIN Banten.
Malam sabtu, jalan-jalan ke Universitas Brawijaya (UB) bersama kawan dari UIN Alaudin Makasar. Di UB kami pun iri dengan bangunan dan kondisi kampus ini. Kampus kami seakan tertinggal jauh banget dari berbagai aspek. Di UB luas banget, bangunannya pun serba mewah. Kami sempat singgah di mushola Fakultas Pertanahan untuk sholat Maghrib. Kemudian dilanjutkan mengitari kampus. Karena capek kami istirahat di pertigaan depan fakultas pertanian. Seru berbincang-bincang dengan kawan dari berbagai daerah yang mempunyai bahasa daerah masing-masing. Malah kami bercanda dengan menerjemahkan satu kalimat ke dalam tiga bahasa, Jawa, Madura, dan Makasar. Bahasanya berbeda dan lucu-lucu. Kami tertawa terbahak-bahak. Hahahahahaha.
Sabtu, agendanya seminar nasional yang dihadiri oleh Dr.Fasli Jalal Ph,D (mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional), Iwan Hermawan, S.Pd, M.M (Sekjen Federasi Guru Independen Indonesia), dan Dr. Muhammad Zain, M.A (Kepala Subdit Pengembangan Akademik Direktorat Pendidikan Tinggi Islam). Seminar yang bertema “Membangun Pendidikan Moral Berkarakter Ulul Alban Sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa” itu ditutup dengan deklarasi Linkar Bidik Misi PTAIN se-Nusantara. Sebelum buyar, kami foto-foto dan sekedar mengukir kenangan.
Sabtu sore kami pulang. Sebenarnya acara belum tuntas. Ahad masih ada agenda jalan-jalan ke daerah wisata di Malang. Namun kami tidak mengikuti, karena pak Ketum ngotot mengajak pulang. Perjalanan pulang cukup melelahkan. Dari UIN ke Terminal Arjosari, kemudian dilanjutkan ke Surabaya, saya hanya tidur di bus. Tak terasa, tiba-tiba sampai di Surabaya. Minggu kedua bulan maret memang melelahkan, tapi penuh dengan kenangan yang  menyenangkan ! Salam sukses untuk minggu-minggu berikutnya.

Muhammad Ali Murtadlo,
Surabaya, 17 Maret 2013.