Jum’at, 15 Februari 2013



Terlalu lama di perantauan ternyata menyisakan kerinduan juga. Rindu melihat senyum orang tua. Rindu dengan suasana kampung halaman. Rindu dengan kawan-kawan semasa kecil. Rindu dengan tetangga. Rindu dengan tempat dimana dulu saya menghabiskan waktu kanak-kanak. Rindu dengan semuanya. Ah, Rindu itu akan segera terobati.
Jum’at ini saya pulang kampung. Pukul 7;00 saya sudah siap berangkat. Sebelum menunggu bus di halte A. Yani depan kampus, menyempatkan diri sarapan di WS depan markas. Rencana pulkam kali ini ingin naik kereta api. Mengulang waktu pertama kali saya menginjakan kaki di Surabaya, 2,5 tahun silam.
Kendaraan pertama sebelum naik kereta adalah bus kota untuk menuju ke Stasiun Pasar turi. Sebel karena harus menunggu lama, sekitar 20 menit lebih. Entah kenapa, bus jurusan pasar turi jarang yang lewat pagi ini. Untung sebelum jam 08:00 bus sudah datang. Mungkin kalau jam 08:00 lebih, bus jurusan Stasiun belum datang, saya langsung ke Terminal Wilangon untuk naik bus jurusan Bojonegoro. Tapi Alhamdulillah bus datang juga.
Jadwal keberangkatan kereta api KRD tujuan Bojonegoro pukul 09:10. Sehingga untuk mengantisipasi keterlambatan saya harus sudah sampai disana sebelum pukul 09;00. Apalagi sekarang manajemen perkeretaapian sudah bagus. Semua penumpang harus bertiket. Penumpang yang tidak bertiket dilarang masuk. Dan kabarnya, pukul 09;00 biasanya tiket sudah habis. Maka saya harus cepet-cepet dan tiba di stasiun sebelum pukul 09;30. Untung tiket kereta masih dan tidak harus antri panjang. Cukup dengan Rp. 2.000 tiket jurusan Stasiun Bojonegoro sudah terkantongi.
Pukul 09:00 semua penumpang dipersilahkan masuk dengan menunjukan tiket ke petugas. Beda dengan dulu, naik kereta sekarang sudah tidak ada lagi penumpang illegal. Sudah tidak ada lagi penumpang yang berdiri apalagi bergelantungan. Seperti saya dulu, naik kereta pertama kali harus berdiri di depan pintu, dan sesekali menggelantungkan kaki di luar. Sekarang sudah tidak ada lagi atraksi seperti itu.
Di dalam kereta hanya membaca Koran yang saya beli di stasiun tadi. Headline Jawa Pos terpampang ‘’ Ibas Diplot Gantikan Anas”. Ada saja ulah politikus negeri ini. Sudah berada di DPR Ibas malah mengundurkan diri dan lebih memilih mengurus partai. Memang benar, kepentinganlah yang abadi dalam politik, bukan pengabdian kepada rakyat. Inilah potret wakil rakyat di negeri ini, mengecewakan dan menggeramkan.
Tiba di Stasiun pukul 11:15. Mampir di At-Tanwir untuk jum’atan di Masjid Pondok. Di sini mengingatkan saya pada kenangan 6 Tahun silam, saat masih berada di sekolah. Masuk Sekolahan tercengang dengan perubahan bangunan yang sudah berkembang. Kelas saya dulu sudah tak terlihat lagi dan terganti dengan bangunan baru yang lebih megah. Yang masih sama adalah Masjid, tetap seperti semula semenjak saya masuk di Mts.
Pukul 01;00 tiba di rumah. Akhirnya kerinduan itu terbayar sudah. Bertemu dengan orang tua, tetangga, teman-teman dan dapat menikmati suasana kampung yang kadang panas kadang dingin. Untuk beberapa hari ke depan saya menghabiskan waktu di sini, di kampung halaman yang asri.
Bojonegoro, 16 Februari 2013

Leave a Reply